Ada perasaan menyenangkan ketika bertemu dengan orang-orang baru, berkumpul dengan suasana yang baru—paling tidak itu yang saya alami beberapa waktu lalu. Sejak dimulainya acara Ngariung Dina Huis, sebuah acara yang diinisiasi oleh kolektifan Gerakan Seni Rupa Bogor (GSRB), yang juga sudah beberapa kali melakukan kegiatan berkesenian khususnya di Kota Bogor, ada beberapa hal yang berkesan dan itu jadi pengalaman yang menarik.

Berawal dari kerjasama Colours sebagai media partner untuk acara Ngariung Dina Huis, kesempatan itu membuka lebih jauh pengetahuan saya mengenai masalah yang ingin dihadirkan: wacana mengenai iklim berkesenian di Kota Bogor. Melalui gelar pameran sejak tanggal 3 September sampai 1 Oktober 2017 di Buiten Huis Gallery, dan rangkaian acara menarik tiap minggunya seperti lokakarya, diskusi, sampai pemutaran film di Buiten Huis Cafe diharapkan dapat memberikan dampak baik bagi penghidupan iklim berkesenian di Kota Bogor.

Dari beberapa rangkaian yang saya ikuti, ada satu pembahasan yang cukup berkesan di hati, yaitu pertemuan dengan Mas Senartogok dan Om Wewew, membahas seputar pergerakan zine, lokakarya membuat zine sederhana—yang akhirnya menghasilkan Buiten Zine #1, dan bagaimana perjalanan skena zine di masa yang akan datang. Setelah ikut dalam bincang-bincang, pertemuan tadi membuat ingin tau lebih jauh mengenai zine. Selain ingin mencoba membuat dan menerbitkan zine, saya juga ingin membagi beberapa hal mengenai zine yang mungkin menarik untuk diketahui.

Sedikit tentang Zine

Zine atau Fanzine sendiri awalnya berupa bentuk alternatif dari publikasi yang tidak komersial, dan tidak mempunyai aturan khusus dalam penulisan serta penerbitannya. Topik pembahasannya pun bisa beragam, dan tentu saja siapapun bisa jadi penulis zine tanpa perlu punya latarbelakang yang khusus.

The Comet Zine

Zine pertama yang dipublikasikan, sekitar akhir 1930-1940, The Comet // Zinenopolis

Zine pertama kali hadir sekitar tahun 1930-an, datang dari kelompok penggemar fiksi ilmiah—Science Correspondence Club di Chicago, dengan judul The Comet. Awalnya kelompok tersebut membuat tulisan-tulisan seputar science-fi dan menamakannya fan magazine, namun diubah penamaannya agar lebih mudah menjadi fanzine.

“Zines and underground culture offer up an alternative, a way of understanding and acting in the world that operates with different rules and upon different values than those of consumer capitalism. It is an alternative fraught with contradictions and limitations…but also possibilities.” —Stephen Duncombe

Melihat sebagai Alternatif

Karena tidak adanya aturan resmi mengenai publikasi, Zine saya anggap sebagai bentuk alternatif ditengah arus media yang kian seragam dan sama. Sudut pandang dari tiap isu yang dibawa pun sangat menarik karena lebih mengedepankan opini daripada sekadar ikut-ikutan topik yang sedang hangat. Menariknya, saya melihat pertumbuhan zine akan terus hidup karena tidak bergantung pada apapun, semuanya dikerjakan secara mandiri—tidak seperti koran atau media cetak lain yang pertumbuhannya semakin melambat.

Zine

Proses membuat zine, tidak ada aturan khusus dalam pembuatannya // slv.vic.gov

Dengan terus adanya publikasi sederhana, setidaknya di zaman demokrasi ini, kita dapat memandang zine sebagai rasa resah para pemikir yang dirundung keterbatasan dan kekakuan dalam menyampaikan aspirasi yang diinginkan.

Zine—lebih luas lagi publikasi secara indie, juga dapat menjadi jawaban bagi para barisan sakit hati para penerbit besar yang hanya melihat isi isu dari satu sisi saja, dan banyak penulis yang mungkin sudah membuktikannya.

Tidak Ketinggalan Zaman

Semakin berkembangnya teknologi informasi, bukan berarti melulu untuk mempertahankan cara tradisional. Penyesuaian juga dilakukan para pembuat zine. Banyak zine yang kini lebih mirip majalah, dan tidak mirip dengan bentuk zine pada awal kemunculannya. Kita juga dapat mengakses e-zine dan webzine yang tersebar di internet.

Adanya Harapan

Saya melihat begitu besar peluang untuk tetap mempertahankan, mengembangkan, dan menyebarluaskan jenis publikasi ini. Melalui keterbukaan pemikiran dalam hal membuat dan mendistribusikan zine, serta dengan isu-isu yang diangkat, saya rasa ada harapan kita untuk menghancurkan stigma-stigma kekakuan tentang bagaimana cara menyampaikan ekspresi. Komunitas-komunitas pecinta zine juga membantu perkembangan zine dan suatu saat akan menjadi publikasi yang besar dan diandalkan.

Dengan keterbatasan yang saya miliki, saya mengajak untuk mari bersama-sama terus mencari informasi baik mengenai zine, karena hal ini berarti kita mendukung keluar dari pemikiran yang konservatif, dan saya meyakini anda akan banyak menemui kejutan setelah mengetahui lebih jauh mengenai zine!