Dengan fenomena “latah” kemunculan berbagai “oleh-oleh kekinian”, hal ini cukup mengusik mengingat sebutan oleh-oleh sebagai istilah yang sudah terkonstuksi sedemikian rupa di masyarakat. Contohnya, ketika menyebut Jogja, jajanan apa yang akan terlintas dibenak kalian?

Bakpia?

Betul?

Contoh lain, Bogor identik dengan?

Talas?

Betul?

Jika jawaban kalian serupa, maka kalianpun merupakan bagian dari masyarakat Indonesia yang telah terkonstruksi secara realita terhadap produk “asli” daerah tersebut. Konstruksi realitas tersebut terbangun baik dari keluarga, teman, media yang setelah menjadi experience diri sendiri, memunculkan persepsi masing-masing dari kalian.

Menurut KBBI sendiri oleh-oleh berarti sesuatu  yang dibawa dari bepergian; buah tangan, sementara ke-khas-an adalah hal (sifat) khusus yang tidak dimiliki oleh yang lain. Dengan kemunculan makanan berjenis serupa yaitu kue, baik berbahan chiffon maupun puff pastry dengan susunan yang hanya diutak-atik, rasanya hal ini mengusik kita selaras dengan kenyataan bahwa kebanyakan oleh-oleh kekinian tidak mengangkat bahan baku lokal yang mencirikan daerah tersebut.

Berbahan tepung, dengan aneka rasa yang sekilas mirip, seputar coklat, keju, blueberry, green tea, red velvet, menimbulkan pertanyaan? Dimana sisi kekhasannya? Kesamaan lain yang muncul dilihat dari segi marketing yang terkesan serupa. Bahkan saling mempromosikan produk lain.

Lalu sebenarnya siapa dibalik bisnis ini?

Oleh Oleh Kekinian

Jannah Corp

Terjawab sudah bahwa ternyata beberapa dari mereka tergabung dalam satu manajemen yang sama bernama Jannah Corp. Jannah Corp membawahi Medan Napoleon dan Palembang Lamonade milik Irwansyah, Surabaya Snowcake milik Zaskia Sungkar, Bandung Makuta milik Laudya Chintya Bella, Cirebon Sultana milik Indra Bekti dan Dilla, Mamahke Jogja milik Zaskia Adya Mecca, Gigieat Cake milik Nagita Slavina, Really Cake milik Prilly Latuconsina, Jambijambe milik Sarwenda, Semarang Thal Cake milik Ruben Onsu, Surabaya Vidi Vini Vici milik Vidi Aldiano, dan Pekanbaru Just Cake milik Melly Goeslaw dan Anto Hoed.

Tentu diluar list tersebut masih ada beberapa nama yang mungkin pernah kalian dengar. Setelah dihitung banyak sekali bukan? Yang masih menjadi pertanyaan, apakah artis-artis ini benar-benar merepresentasikan daerah yang dibawa dalam produk “oleh-oleh”nya ataukah semata-mata mereka ini hanya berangkat dari popularitas dan tergiur keuntungan bisnis? Atau hal sederhana seperti benarkah mereka sendiri yang meramunya?

Bagi kita yang ingin berfikir positif, “oleh-oleh kekinian” akan menjadi angin segar seiring masih menjadi trend di masyarakat, namun dikemudian hari, akankah bisnis ini akan tetap bertahan? Dan kira-kira bagaimana oleh-oleh asli daerah dapat terus eksis ditengah kondisi seperti ini? Kalian boleh bertukar pikir dengan menuliskan pendapat di kolom komentar dibawah.

Untuk menutup diskusi ini, sebuah himbauan untuk jangan melupakan oleh-oleh asli dari daerah karena bagaimanapun, ada pemberdayaan masyarakat setempat mulai dari bahan baku, produksi sampai ditingkat distribusi produk.

Kami tunggu kalian mengkritisi hal ini ya!