Menurutmu, seberapa cinta kamu terhadap Indonesia?

Tentunya tidak dengan begitu saja kamu bisa mencintai Indonesia. Dimulai dari keingintahuan, menjadi pemahaman, lalu bisa timbul keputusan antara suka atau tidak suka terhadap sesuatu hal. Sama hal nya dalam mencintai Indonesia, perlu keingintahuan dan pemahaman tentang Indonesia setelahnya.

Mulai dari hal yang sederhana, yaitu mencintai segala tentang Ibu Kota dan sederet ceritanya, yang salah satunya mengisahkan legenda Betawi, Benyamin Sueb atau Bang Ben.

Seniman yang mahir di banyak bidang ini lahir pada 5 Maret 1939, di Kemayoran. Kisahnya yang melegenda membawa nama Benyamin Sueb menjadi nama jalan di daerah Kemayoran, tempat beliau lahir.

Mungkin, banyak millennials yang belum tahu nama Benyamin Sueb dan mengapa beliau menjadi legenda yang dikenang banyak kalangan, khususnya di Betawi.

Tidak Membatasi Diri

Seniman yang luar biasa, dapat dikatakan hampir menguasai seluruh ruang lingkup seni, mulai dari menciptakan lagu, menyanyi, bermain musik sampai berakting, dan tentu saja memiliki selera humor yang cerdas ala Betawi. Itu semua bermula dari kegigihan dan antusias Bang Ben untuk belajar hal-hal baru.

Tidak hanya pernah membuat band dengan nama Orkes Kaleng bersama saudara-saudaranya, tetapi juga pernah bergabung dengan grup band Melody Boys pada tahun 1957, yang memainkan musik rhumba, kalipso, cha-cha, dan keroncong. Tidak berhenti sampai situ, setelah musik “ngak ngik ngok” dilarang Soekarno, Bang Ben yang pada saat itu menjadi penyanyi latar dan bongo, sedikit demi sedikit meninggalkan musik Barat dan mulai belajar musik-musik Betawi. Akhirnya terciptalah Gambang Kromong.

Tidak hanya musik, Bang Ben memperluas kancahnya sampai ke perfilman. Bukti keseriusan dalam menekuni segala bidang yang dijalaninya, termasuk di dunia akting, adalah ketika Bang Ben mendapatkan dua Piala Citra untuk Aktor Terbaik pada 1972 dan 1977.

Punya Pendirian Kuat

Lahir dari kesederhanaan dan keterbatasan membentuk karakter Bang Ben menjadi pribadi yang kuat dan tangguh. Bayangkan, bocah yang sudah ditinggal Ayahnya saat baru menginjak umur 2 tahun pernah menjadi pengamen, tukang roti, kondektur Bus PPD, pegawai bagian amunisi Angkatan Darat, hingga bekerja di PD Kriya Jaya. Hal tersebut tidak mengalanginya untuk tetap semangat dalam berkarya. Pendirian yang kuat menghantarkanya ke jalan menuju kesuksesan, sesulit apapun itu.

Terus Berinovasi

Jika Bang Ben memilih menyerah, mungkin Bang Ben hanya menjadi pengamen yang tidak menentu nasibnya, namun tidak, Bang Ben saat itu umur 2 tahun, dan mengajak saudara-saudaranya untuk membentuk sebuah grup yang diberi nama Orkes Kaleng, karena barang-barang yang digunakan terbuat dari kaleng dan bahan seadanya.

Jika Bang Ben memilih untuk berhenti, mungkin seni tradisional betawi tidak seberkembang sekarang, khususnya setelah terciptanya Gambang Kromong.

Itu adalah sedikit dari apa yang bisa saya simpulkan mengapa hari ini anak muda perlu tahu tentang sosok Benyamin Sueb. Perjalanan hidup dan karyanya mampu menginspirasi bukan hanya soal bagaimana menjadi si ini si itu, tetapi bagaimana menikmati dan tulus dalam membuat karya, dan tentunya menjadi bagian dari mencintai budaya betawi dan Indonesia.

Seberapa dahsyat kekuatan karya Benyamin Sueb? Sangat amat dahsyat. Saya akan buktikan kamu bisa terhipnotis, atau paling tidak sekadar cengengesan dengar lagu berikut:

 

Selamat memuja-muja karya Bang Ben!