259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan terekam di catatan tahunan KOMNAS Perempuan selama tahun 2016 (sumber: nasional.kompas.com). Sebelumnya, patutlah pemirsa sekalian ingat-ingat, bahwa ini adalah angka yang tercatat, dari kasus-kasus yang terlaporkan. Jangan lupa, bahwa Indonesia yang luas ini masih punya tempat-tempat yang tak terjangkau oleh tukang pengumpul data, maka angka tersebut boleh jadi tak ada artinya.

Tak perlu khawatir, karena, kecuali pelaku kekerasan itu sendiri, rasanya sudah cukup manusia di muka bumi ini yang mempunyai rasa iba dan peduli terhadap para korban kekerasan yang kebanyakan wanita itu. Sayangnya, rasa iba dan peduli ini luntur seketika waktu nonton TV, tidur, makan, jalan-jalan di mal, ngopi di Starbucks, nongkrong sampai larut malam, sibuk kuliah, sibuk kerja, beres-beres kamar, mandi, atau sekadar beli bensin. Seperti menggaruk bentol yang gatel, rasa iba dan peduli ini seringnya hilang setelah beberapa kali garukan — bahkan terkadang kamu benar-benar lupa kamu pernah merasa gatal.

Hari ini, muncul nama Kartika Jahja, wanita asal Jakarta yang gatel bentolnya nggak hilang-hilang.

Namanya mungkin nggak asing lagi bagi pecinta musik. Kartika Jahja sendiri bermain di sebuah band yang diberi nama “Tika & The Dissidents” dimana ia adalah vokalisnya. Tika & The Dissidents paling dikenal dengan lagunya yang berjudul “Tubuhku Otoritasku” dimana, seperti judulnya, mereka menyampaikan bahwa seorang wanita sudah sepantasnya mempunyai otoritas akan tubuhnya sendiri.

Tubuhku Otoritasku bukanlah sepak terjang pertama Kartika Jahja dalam mengkampanyekan hak wanita, ia memang sejak lama punya peduli lebih terhadap isu kekerasan terhadap wanita dan aktif menulis untuk menyuarakan suara-suara korban kekerasan itu sendiri. Kini setelah lagunya mulai didengar banyak orang, Kartika Jahja mulai sering bertemu para pendengar musiknya yang mengucap terima kasih karena, atas lagunya, mereka mulai mencintai tubuh mereka lagi, atau korban perkosaan, misalnya, yang merasa kembali berdaya setelah mendengar lagu ini, “hal-hal seperti ini menurutku lebih rewarding dan penting buatku dibanding ada di Billboard chart, atau apa gitu,” ujarnya dalam wawancara dengan BBC Asia.

Bersamaan dengan hal itu, tentu datang juga label-label negatif yang mengiringi wanita berpembawaan ramah ini, tapi bukankah pada akhirnya “do what makes you feel right” adalah kutipan bijak yang patut dibawa kemanapun kita pergi? Untuk ini, rasanya Tika telah menemukan apa yang harus ia lakukan. Lagipula ini bukanlah soal superioritas, melainkan ekualitas, yang mana sangat kurang (atau semakin berkurang) hari ini.

 

Di generasi teknologi dimana semuanya serba cepat, dimana yang muda yang berkarya, dimana yang terbelakang katanya mulai dapat kesempatan, dimana kedamaian katanya mulai datang, seorang dosen fakultas hukum ketika memberikan materi kuliah di hadapan mahasiswa-mahasiswanya berkata sebagaimana judul tulisan kali ini. (dikutip dari kartikajahja.tumblr.com).

Apakah kamu salah satu yang setuju akan pernyataan itu?