Bukan rahasia lagi kini bahwa minat membaca rakyat Indonesia, terutama pada usia produktif, seiring dengan berkembangnya teknologi dan jaman, semakin meningkat begitu intensif. Kalimat barusan sifatnya fakta. Sebuah studi membuktikan bahwa 8 dari 10 orang kini mengecek telepon genggamnya rata-rata sekali setiap setengah jam. Bangun tidur pun yang dicek pertama adalah sosial media, seakan rugi kalau ketinggalan barang satu kata dari kabar-kabar terbaru, status-status sosial media, opini politik mahasiswa kedokteran, komentar saintifik mahasiswa politik, curhatan berbaris-baris, hingga umbaran doa berbait-bait; apa yang terjadi selama gue tidur, selama gue meninggalkan HP 10 menit??? Apalagi itu namanya kalau bukan haus akan bacaan?

Membaca, pokoknya manusia jaman sekarang mau terus-terusan membaca.

Membaca sebuah tulisan, hoax ataupun bukan, dangkal maupun dalam, dan pendek maupun panjang, adalah sesuatu yang selalu positif, setidaknya menurut saya sendiri. Semua bacaan punya nilai tersendiri, punya efek tersendiri bagi pembacanya. Di jaman ini, agaknya udah basi untuk membahas ideologi pemikir-pemikir terdahulu, mungkinkah karena sebuah pemikiran bisa basi ditelan jaman, nggak lagi relevan dengan kehidupan yang norma-normanya udah banyak berubah? Tulisan-tulisan Karl Marx, Immanuel Kant, Macchiaveli, dan Kierkegaard nyatanya kalah tenar kalah penting dibanding post foto terbaru selebgram dengan caption “throwback Thursday!!!” atau curhatan panjang lebar ‘Entah Siapa’ di timeline LINE. Kutipan ucapan Karl Marx, Immanuel Kant, Macchiaveli, Kierkegaard dan terkadang juga Nabi Muhammad dan para sahabatnya mungkin muncul sesekali di sosial media dalam bentuk jpg, tapi nggak pernah dilekati cukup lama sampai hilang ditelan scroll si ibu jari.

Saya jadi penasaran sendiri, kalau Socrates, a.k.a salah satu filsuf terbesar sepanjang masa, punya akun Instagram dengan caption penuh pemikiran luar biasa di tiap post-nya, apakah dia bakal punya cukup followers sampai akunnya dibintangin?

Atau justru kita sudah cukup pintar dan kritis, cukup paham pola kehidupan, sehingga nggak merasa perlu nge-follow Socrates?