Pribumi

Yang berbahaya dari komunisme hanya “klasifikasi”. Antara revolusioner dan kontrarevolusioner. 

Antara yang kanan dan yang kiri. 

Antara sosialis dan kapitalis. Ini sangat problematis, karena manusia adalah individu dengan kemanusian yang sudah tumbuh sebelum Karl Marx merumuskan Komunis Manifesto.

Klasifikasi dalam komunisme makin berbahaya di jaman Stalin, klasifikasi jadi kampanye yang sah untuk membunuh seseorang yang berbeda pendapat, walaupun pendapat itu dari golongannya sendiri. Mereka tak segan untuk membunuh. Trotsky dan ribuan seniman di era Stalin dihukum dan tak sedikit yang berakhir mati.

Agaknya,semangat klasifikasi itu ditularkan oleh segerombol orang yang menamai dirinya “pribumi”

Menurut saya, pandangan “pribumi” dan “non pribumi” sama-sama problematis seperti “revolusioner” dan “kontrarevolusioner”

Anehnya, pandangan dan klasifikasi sempit ini masih saja menimbulkan pengikut-pengikut. 

Besar dugaan saya, sebuah klasifikasi adalah daya tarik moral dengan eksistensi sebuah identitas.

Layaknya ideologi, sebuah pandangan agaknya lebih tepat sebagai suluh (kata Gus Dur).

Pandangan tak elok jika hanya jadi tembok pemisah.

Pandangan tak seharusnya mengeras dan tak bisa diutak atik oleh telaah kritis.

Di era sekarang, berada di posisi tengah-tengah tak diperbolehkan, semua harus memihak. 

Saya jadi teringat tentang sebuah kutipan dari Kremlin sana, dari jaman Stalin sana, bahwa tak ada posisi tengah-tengah, semua harus memilih barat atau timur.

Kondisi dan relevansi muncul lagi di era sekarang, di dekat jantung ibukota kita.

Saya tidak berburuk sangka, kecuali, kaum demagog di Jakarta itu mencabut klasifikasi mereka tentang Pribumi dan Non Pribumi.

Saya pun agaknya masih setengah optimis bahwa kaum radikal itu tak akan jadi Zhdanov maupun Stalin baru di negeri kita.