“Yang muda yang berkarya” — sudah sering kita mendengar slogan itu, tapi pernahkah benar-benar melihat ke dalam diri sendiri dan ke waktu-waktu yang sudah berlalu; apa yang sudah dilakukan selama ini? Benarkah ada banyak hal yang lebih penting daripada mengecek sosial media setiap lima menit sekali, atau saling berkabar tanpa henti dengan yang dikangenin?

Sabrina Paterski, seorang wanita muda asal Amerika keturunan Kuba, percaya bahwa hidup terlalu pendek untuk diisi dengan hal yang tak membuatnya berkembang. Sejak kecil, ia telah menyusun rapi masa depannya, mengisinya dengan rencana – rencana dan langkah konkrit yang terkadang sedikit berbeda daripada teman seusianya. Misalnya saja, bahwa dia belajar menerbangkan pesawat jauh sebelum dia belajar mengemudi mobil, yakni 12 tahun. Pesawat ini tak hanya ia kendarai, tapi juga ia rangkai sendiri dengan sedikit bantuan ayahnya. Dengan pesawat ini juga ia melanglang di atas sepanjang pinggiran Danau Michigan, dengan izin spesial dari Badan Administrasi Penerbangan Amerika.

Pada sebuah wawancara ia berkata bahwa awal kecintaannya terhadap dunia fisika mulai berkembang sejak ia rajin mengunjungi festival-festival sains sewaktu ia masih kecil.

Seorang gurunya dari Akademi Matematika dan Sains Illinois di Aurora, setelah mendengar ia pernah membangun pesawatnya sendiri, berkata, “bagus, tapi apa yang telah kamu lakukan akhir-akhir ini?” Sabrina pun mendadak terdiam, kata-kata itulah yang akhirnya menghantui dia terus-menerus, dan sampai kini masih menjadi “mantra” untuk mendorongnya terus berkarya, “bagus, tapi apa yang telah kamu lakukan akhir-akhir ini?” — “that’s nice, but what have you done lately?”

Berangkat dari sepenggal kalimat itu, Sabrina mulai semakin giat berkarya dalam dunia fisika, membangun terus pesawat, mengembangkan rumus-rumus lama, hingga pencapaian-pencapaian itu sampai ke telinga NASA, sebuah badan antariksa Amerika, yang akhirnya menawarkan ia bekerja di NASA pada umur yang masih tergolong terlalu muda.

Tapi, jangan pikir pencapaian Sabrina selama ini mulus terus.

Kegagalan bukanlah lawan kata dari keberhasilan, melainkan proses dari itu.

Nyatanya, pada saat pertama kali mendaftar ke MIT (Massachussets Institute of Technology), ia masuk ke dalam daftar tunggu alias cadangan, dan ditolak mentah-mentah oleh Harvard.


“Setelah bikin pesawat pas masih 12 tahun dan segala macemnya, masa gak diterima???!!!”


Sekilas, pasti ada pikiran semacam itu. Apalagi, Sabrina Paterski sama sekali tidak mendaftar ke perguruan tinggi lain pada saat itu. Dia memang cukup kaget dan sedih bukan main, tapi akhirnya ia menjadikan itu sebagai bahan untuk mengevaluasi dirinya dan justru berkata bahwa ia bersyukur tidak mendaftarkan dirinya ke perguruan tinggi lain, karena kalau begitu dia tidak akan mendorong dirinya untuk keluar dari daftar cadangan dan masuk ke MIT, kampus dimana ia akhirnya melanjutkan jenjang pendidikannya pada usia 14 tahun.

Dilansir dari sebuah majalah Amerika, untuk mengeluarkan dirinya dari daftar cadangan, Sabrina menunjukkan videonya membangun pesawat sendiri pada Professor Allen Haggerty dan Professor Earll Murman dari MIT. Profesor Allen Haggerty bahkan memberitahu Yahoo!, “potensi yang dimiliki Sabrina Paterski sudah melampaui grafik!”

Tak lama setelah itu, Sabrina lulus dengan poin rata-rata 5, yaitu poin terbesar yang bisa dicapai. Pembimbingnya, yang juga pernah menjadi partner penelitian Stephen Hawking, bahkan memuja juga kejeniusan wanita muda itu. Tentu tak heran bahwa kini banyak majalah, professor-professor, dan halaman-halaman di internet yang menyebutnya sebagai The Next Einstein – Einstein Selanjutnya.

Dengan umurnya yang masih 23 tahun, kini Sabrina sedang memfokuskan dirinya dalam program doktoral di Universitas Harvard. Dalam sebuh wawancara ia bercerita tentang rencananya membuat sebuah laboratorium antar cabang ilmu pengetahuan. Alasannya?

“Saya melihat bahwa biologi sebetulnya bersandar pada kimia, sebagaimana kimia bersandar pula pada fisika. Dan pada titik tertentu, dimana kita bisa mereduksi banyak hal kompleks menjadi konsep yang lebih sederhana, kita bisa mempunyai kekuatan lebih untuk menggunakannya.”

Jadi, intinya, make it simple to make it bigger!

Rasanya tak akan sulit bagi Sabrina, karena kini segala aktivitasnya didukung oleh ribuan dolar dari Yayasan Hertz, Yayasan Smith, dan Yayasan Sains Nasional.

Sabrina juga menambahkan, bahwa tentu lebih menyenangkan membayangkan dirinya sebagai ilmuwan bebas yang tak terikat waktu, tak terjebak dalam sebuah laboratorium atau perusahaan dimana ia hanya bisa mengerjakan tugas tertentu dan bekerja dari jam 9 sampai jam 5. Kalau begitu, bisa-bisa kontribusi dan perkembangannya terbatas oleh dimana ia berada.

Tak seperti seusianya, Sabrina tak mempunyai Facebook, LinkedIn, ataupun Instagram, dan bahkan tak mempunyai smartphone! Meski begitu, ia selalu meng-update websitenya, physicsgirl.com.

sab4

Tak perlu merasa terlambat atau keduluan, karena akan selalu ada ruang untuk berkarya. Bukan soal umur, bukan soal bakat, apalagi soal uang, tapi bagaimana untuk bisa selalu gigih mengejar apa yang seharusnya dikejar!

Jadi, tunggu apalagi?

Ayo mulai dari sekarang!